Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Helo kamis manis

Selamat pagi kamis manis, tak terasa udah hampir seminggu kerja di Satuan Kepolisian Res. Tomohon. Tepat pukul 07.30 wita beatyku (nama sepeda motorku) terparkir di halaman parkiran Polres "eh ternyata masih adpel pagi" kataku dalam hati sambil senyum-senyum karena gak terlambat heheh Kutelpon teman semagangku ternyata dia lagi singgah duduk di kantin sambil nunggu adpel kantor berakhir. Jangan ditanya kenapa kita gak ikut adpel, karena kita gak digaji negara hehehe. Duduk sebentar di kantin sembari membaca novel yang aku bawa. Makan kue tolu dikantin, tak lama dari itu sudah banyak polisi-polisi berkeliaran di kantin-kantin terdekat. Ternyata adpel telah selesai. "Yuk pergi ke ruangan" ajakan temanku. Sampai di ruangan "kok kantor sepi gini ya?" Tanyaku. Tak lama ada seorang bapak pegawai di kantor ini juga datang menghampiri kami. "Kalian mahasiswa yang lagi magang kan?" Tanya bapak itu. "Iya pak" jawab kami bertiga. "Hari in...

Gerhana bulan katanya

Malam ini puncaknya gerhana, kata Bmkg Gerhana bulan tepatnya Diseluruh Indonesia bisa melihatnya Menyala terang dalam 15 tahun sekali Bersyukur kita ada di kesempatan ini Namun cuaca berkata lain Tomohon kala ini langitnya mendung Serpihan hujan-hujan kecil seakan tak memberi ruang kita diluar Ditambah lagi dinginnya kota ini Hanya ingin membungkus diri dalam selimut Mungkin langit cemburu pada bulan Dia diabaikan juga dilupakan Oranga-orang terlalu ex cited dengan fenomena ini Mereka lupa. Tanpa langit, bulan tak punya cerita Menatap keatas berharap bisa bertemu Nyatanya langit terlalu gelap bahkan sangat gelap Redap-redup cahaya hanya terlihat sekilas Yang utuh hanya ada di sisi lain Lihat saja yang lain bisa mengambil momen itu Tapi tidak denga kota ini Dia tertutup rapat Bak putri malu yang sembunyi dalam kamar lucunya Hah bulan ... Kota Tomohon, 19°c - Mendung

Adik kecilmu, kak

Aku disini memendam rasa Tanpa keluh, tapi nelangsa  Bukan tak ingin bercerita Dirimu saja yg tak ingin derita Berjalan menuju kotak cerita Berdua tapi belum bersama Ada apa? Dirimu belum memahaminya?     Atau belum bisa menerimanya?     Ku mulai mencoba bercerita lagi Tapi kau membawa lain cerita lagi Ahh kamu kak, kenapa begini? Lama-lama adikmu bisa lelah dengan ini.    Tapi, ceritakan saja ceritamu kak Aku selalu jadi pendengar yg baik kok Hiraukan saja ceritaku kali ini yakk Besok siapkan telinga dan bahumu, ceritaku cukup banyak. Salam dari adik kecil mu~

Mulai dari mana?

Mulai dari mana kita jadi sedekat itu Kupikir kita hanya sebatas senior-junior Tak pernah terpikir bisa begini juga begitu Karena dulu kamu sudah punya kekasih Berjalannya waktu Kita sering bersama Entah ngumpul dengan mereka ataupun hanya jalan berdua Tak tau kenapa, dimana ada kamu disitu pun aku ada Kita bagai sepasang kaki manusia yang selalu berjalan bersama Ada yang mulai curiga Ada yang mengejek Dan kita tak parduli akan itu Nyaman adalah alasan terkuat kita Puluhan kilometer jalan ditempuh Berbagai tempat kita datangi Macam-macam makanan jadi percobaan Rupiah-rupiah yang kita habiskan Tak pernah ada kata lelah Waktu memang banyak lucunya Yang kupikir ternyata malah sebaliknya Yang tak pernah terpikir malah kejadian Ahh sudahlah...

Sementara untuk selamanya

Sementara pergilah kasih Buatlah jarak agar merindu Meski lara selalu jadi bagianmu Sementara ucaplah salam perpisahan Lantunkan dengan lirik tanpa lirih Jangan buat dia menangis Sementara larilah sekuat mungkin Sembari lupakan hari kemarin Meski sesak terasa di dada Sementara bersembunyilah Usahakan dia tak melihat fisikmu      Siksa dia dengan kenangan yg ia kenang Sementara lupakanlah kisah Hibur hati yang menderita Menarilah diatas rumput ketenangan Sementara ... Lalu kembali Untuk menghilang Selamanya ...

Rumah ku, rumah kita.

Di umur yang sedikit lagi mau nginjak 20 tahun, pengalaman paling berharga dalam hidup adalah menjadi bagian dari organisasi kecil di kampus. Yang biasa aku sebut rumah kedua ku. Aku, anak yang suka dengan dunia luar ketimbang dalam rumah. Dipertemukan dengan tempat penampungan yang namanya Badan Tadzkir. Yaa.. setelah memasuki dunia perkuliahan aku bertemu dengan tempat ini yang kusebut rumah kedua, aku di besarkan dari keluarga kecil di dalamnya juga di dewasakan dengan masalah-masalah yang ada dirumah itu. Ditempa lalu menjadi kuat dan berani. Kalo dibilang bangga, yes, Im so proud to be here . Dititipkan segala jenis amanah perjuangan, di belajarkan menghilangkan ego-ego yang agak kurang waras, menjadi si pemberani, menjadi si kuat walau pas di muhasabah tetap aja nangisnya paling banyak heheh.. Tempatku berteduh dari segala terpaan hujan dan badai, tempat ternyaman untuk kembali, tempat mangais pahala karena jalannya tali silaturahim. Bisa dibilang begitu. Beberapa kali pern...

Kapan lagi? Tanyaku

Aku tak ingat lagi kapan terakhir kita bertemu Apalagi duduk berdua Semua sudah hilang dari memoriku Tak tau kenapa, apakah aku mulai pikun? Atau sudah terlalu lama jarak yang kau beri? Sudahlah aku tak ingin membahas tentang rindu Rindu jadi derita ketika hanya aku yang merasakannya Tak baik kan memaksaan kehendak Apalagi paksa kamu hendak merindu Aku hanya ingin tahu kabarmu Apakah sedang bahagia? Atau sedang mencari kebahagiaan? Tapi, semoga kamu selalu bahagia dengan kebahagiaanmu Sudah lama ya kita tak minum bareng Kamu dengan kopi andalanmu dan aku milkshake kesukaanku Sudah lama ya kita tak berdiskusi Kamu bercerita tentang banyaknya cita-citamu dan aku bercerita tentang masalah dan air mata sambil bersandar di tulang bahumu Aku banyak cemasnya dibanding rindu, kenapa ya? Harusnyakan aku bisa ikhlas Lihatmu berlari kejar cerita barumu Lalu terbang dengan kepakan sayap kecilmu Pergi dan menghilang Tak kutemukan lagi. Kaaten, Tomohon. Masih 19°Celcius. ...

Hari kedua magang, semangat.

Hari ini cuaca bisa dibilang tak bersahabat Dia menahan orang untuk tetap berada di tempat tidur nya Bukan hujan, tapi dinginnya Sampai 19 derajat celcius, bayangkan saja bagaimana dinginnya Alarm berbunyi dari henpon kecil itu Keributan mengawali pagiku Mengambil peralatan perang Dan berjuang melawan dinginnya air pagi ini Bersiap menjalani hari Bekerja sebagai anak magang Hari kedua kerja, sangat semangat Berlari karena tidak ingin terlambat Memakai beaty (motorku) Kasihan dia, tak sempat ku panaskan Melewati ombong kota Tomohon yang menutupi jalan pagi itu Dinginnya bukanmain, sampai totofore Sampai di kantor (tempat magang ku) "Akhirnya anak itu tak terlambat" kata 2 temanku Mereka menungguku dipintu masuk Haha aku tertawa untuk pagi ini "Terima kasih telah menunggu" kataku Selamat pagi semesta. Polresta Tomohon. 19°celcius~

Hujan itu

Hujan itu lagi-lagi membasahi bumi Membawa sejuta genangan Mebasuh wajah yang kusam Mengingatkan tentang dia hari itu Hujan itu lagi-lagi membasahi bumi Menawarkan sedikit kenangan Mengecap banyak ingatan tentang kita Meleburkan doa-doa dalam tiap rintiknya Hujan itu lagi-lagi membasahi bumi Bersama angin nan kencang Menerpa beberapa harapan Harapan untuk kembali tapi mustahil Hujan itu lagi-lagi membasahi bumi Mengukir cerita baru bukan dengannya Menemani daun basah, kita basah bersama Memulai kisah baru dengan dia yang berbeda, semoga selamanya. Tomohon, 22:45 wita

Sedikit tentangku

Gambar
Perkenalkan namaku Rasmianti Halim akrab dengan nama Ami, lahir disebuah Rumah Sakit di Kota Manado, Sulut pada tanggal 16 April 1998 (sekitar 19 tahunan yang lalu). Aku beragama Islam, Ayahku seorang Pegawai Negeri di bidang Perhubungan Laut dan Ibuku seorang Insinyur yang bekerja di rumah (Irt). Aku anak ke tiga dari 4 bersaudara, kakakku yang pertama perempuan, dia sudah bekerja, menikah dan menetap di Kota Gorontalo (mengikuti suaminya), kakakku yang kedua laki-laki dia anak paling spesial di keluarga, dia anak tersayang, dia seorang anak berkebutuhan khusus (autis). Dan yang terakhir si bungsu adik kami, sekarang dia masih sekolah kelas 1 Sma. Sebelum tinggal dirumah yang sekarang, dulunya kami sekeluarga tinggal di rumah dinas ayahku tepatnya di kelurahan Bitung Karangria, Timinting, Manado. Kami tinggal di lingkungan yang mayoritas beragama non-Islam. Dalam sebuah Asrama perkantoran itu hanya ada 2 keluarga yang beragama Islam, dan itu bukan sebuah masalah untuk kami. Kami hid...

Ucapan terimakasih terakhir

Gambar
Terimakasih untuk segala yang terjadi kemarin dan saat ini aku begitu bahagia, setiap kata yang keluar dari mulutmu terdengar seperti angin yang sejuk dan begitu nyaman sampai aku lupa akan segalanya. Semuanya menutupi mata dan otakku kata-katamu bagaikan musik kesuakaanku yang selalu ku ingat tiap baitnya. Aku begitu berani dan tanpa takut, tak ada rasa malu untuk apapun. Dan saat aku mulai menyadari semuanya,  Aku menyuruhmu untuk pergi tapi kau terus datang dalam setiap waktu yang kulalui menambahkan sedikit bumbu bodoh dalam dilema berkempanjangan sehingga aku mulai takut untuk beberapa hal, akhirnya aku terjatuh lagi didalam indahnya kalimat kalimat puitis. Namun hari ini waktu dan Tuhan membuktikan bahwa aku begitu bodoh bertahan dengan orang yang sama sekali tak pantas lagi dipertahankan. Itu hanya menambah luka lagi. Tapi terimakasih. Mungkin luka ini membutuhkan banyak obat dan banyak waktu untuk sembuh tapi aku bersyukur karna Tuhan masih mengasihiku hari ini. Hanya s...

Dalam, tak dangkal

Dalam bait bait rindu Tanpa sadar ku menulis tentangmu Dalam sejuta khayalan Dirimu jadi bagian ternyaman Dalam rentetan cerita Denganmu hilang segala derita Dalam rintihan kisah Caramu tak membuat kesah Dalam sebuah rasa, ahh Ternyata aku tak terarah Dalam sekap waktu dan jarak Aku dungu menunggu sampai meretak    Dalam rindu ku membencimu Dalam hati ku mencintaimu Dalam, tak dangkal.

Berdua di hening malam

Malam itu pukul 23.00 wita, aku yang punya ego terbesar ini tiba-tiba sedih tak tau dengan alasan apa Ku pergi tinggalkan keramaian, berjalan menyusuri keheningan dan kamu datang menghampiri katanya mau menemani sedihku Kutanya dalam hati, apakah kau bisa melihat sedihku?. Ahh ternyata kau tak bisa mendengar isi hatiku Kita berdua berjalan, dia banyak bercerita malam itu, bercerita tentang mimpi dan cita-cita yang ingin ia capai, tentang kisah lucu di hidupnya tentang banyak hal yang ada di dalam pikiranya semunya dia ceritakan. Pikirku, mungkin dia sedang berusaha mengobati sedihku. Aku yang malam itu menahan diri tuk tak bercerita ternyata tak semudah itu Ternyata dia mampu buat ku bercerita lalu mampu buat ku tertawa, dan yaa sedihku bisa hilang.. piuurrr Ketika sedihku hilang, dia bertanya "mau kemana kita malam-malam begini?" Ku jawab "tak tau, aku pun bingung" dan kita tertawa lagi Kita kembali ke keramaian itu, ku pikir lagi kita sudah selesai ternyata ...
Malam, ku ingin bercerita lagi Tentang rasa yang kian menyakiti Tentang hati yang semakin membenci Tentang cinta yang selalu terkhianati Malam, ku ingin menangis Tentang dia yang humoris Tentang dia yang semakin sadis Tentang kita yang tak pernah magis Malam, jangan sepertinya Heningmu dang heningnya tak sama Heningmu dan ceritaku berteman mesra Sedang heningnya, berakhir derita