Bertahan, Bertumbuh, Berdampak: Cerita juga Catatan tentang Dua Tahun Manado Book Party
Dua tahun yang lalu, di sebuah kafe, saat badai menerjang kota Manado, kami bertemu. Tidak ada niat besar. Hanya sekadar ingin bertukar cerita selepas kelulusan kuliah: tentang pekerjaan pertama, cita-cita yang mulai diuji realitas, tentang cinta dan hal receh lain yang membuat kita semakin menyatu. Diantara obrolan ringan itu, salah seorang dari kami mengangkat cerita tentang satu kegiatan baca buku yang sedang viral di ibukota. Ternyata algoritma kita sama: book party. Dari sana, diskusi perihal buku dan membaca mengalir dalam obrolan kita. Lalu, kegelisahan itu keluar satu per satu. Kegelisahan kami sederhana: mengapa begitu sulit menemukan ruang membaca dan berdiskusi yang santai bagi anak muda? Bukan ruang yang formal dan kaku, bukan pula sebuah forum yang membuat orang segan untuk bertanya. Hanya ruang yang hangat, tempat buku bisa dibicarakan tanpa intimidasi dan perbedaan bisa diterima tanpa prasangka. Dari keresahan yang sama, tiga perempuan ini memulainya. Langkah ...