Mau jadi Barbie ajaaa(?)
Selasa kemarin saya akhirnya memutuskan untuk menonton Barbie. Film yang sepertinya sudah lama gentayangan di papan studio film. Keputusan menonton ini muncul akibat cerita dari teman yang telah menontonnya. Katanya, film ini mengandung pesan-pesan feminist. Tiba-tiba saya tertarik untuk menontonnya. Saat menonton, banyak penonton yang mengenakan pakaian bernuansa pink. Barbie identik dengan pink dan pink indentik dengan perempuan apakah itu bisa jadi kesimpulan? Tapi sepertinya warna tidak milik salah satu gender. Ya kan?
Film yang dibuka dengan sejarah singkat boneka barbie hadir dan menjadi pilihan permainan anak perempuan, memperlihatkan beberapa anak perempuan yang punya mainan dan cara bermain yang monoton sebelum barbie lahir ke dunia anak-anak. Dengan fungsinya sebagai boneka, Barbie membawa kesan yang membentuk stigma "perempuan cantik", dengan tubuh langsing yang -mungkin- jadi cita-cita banyak perempuan di dunia nyata.
Sempat kecewa dengan scene awal kehidupan Barbie di Barbieland, mempertunjukkan kehidupan para barbie yang menguasai segala lini kehidupan bermasyarakat tanpa ada satupun laki-laki di dalamnya. Baik sih, tapi menurut saya ini adalah kehidupan yang monoton. Karena pada dasarnya, kehidupan perempuan dan laki-laki akan selalu berdampingan. Tidak ada kehidupan yang di dalamnya perempuan saja dan tidak baik juga ketika hanya laki-laki saja.
Berjalan cerita. Ternyata Barbie dan Ken mengajak para penontonnya untuk meninyisir kehidupan "nyata" manusia normal. Dalam dunia "nyata", para manusia-manusia hidup dalam keadaan terbalik dengan kehidupan di Barbieland. Kehidupan di dunia nyata, yang seperti kita semua rasakan saat ini adalah kehidupan patriarki, yang seluruhnya mengadopsi pemikiran laki-laki untuk menjadi role model atau patokan dalam mengambil dan menjalani kehidupan. Entah perempuan atau laki-laki itu sendiri harus mengikuti standar yang telah ditetapkan masyarakat. Karena keadaan berbalik 360 derajat, Barbie tidak bisa menerima keadaan itu, namun Ken sangat tertarik karena merasa dirinya sangat dihargai.
Dengan seketika, kehidupan Barbieland berubah drastis seperti halnya kehidupan pada dunia nyata. Para Ken sangat berbahagia sekaligus menjadi berbangga karena kaumnya dilayani para Barbie. Kehidupan indah menurut Ken, tidak berjalan lama. Barbie yang sadar akan hal itu langsung mengembalikan kehidupan pada keadaan awal. Dimana para Barbie memegang penuh seluruh peran kehidupan di Barbieland,namun para Ken kembali berani meminta sedikit peran di ranah publik.
Kehidupan Barbieland yang sangat ramah perempuan mungkin menjadi impian setiap perempuan di kehidupan nyata. Begitupun dengan saya. Ketika selesai menonton. Rasanya ingin pindah dunia. Tapi di mana ada dunia yang seperti dunia Barbie? Dunia yang kita huni bukanlah dunia dongeng. Bukan dunia yang di bentuk oleh manusia sadar. Dunia nyata kita adalah dunia yang di bentuk dengan banyak komposisi laki-laki yang menjadi tolak ukur dari setiap keputusan yang akan di ambil oleh setiap laki-laki apalagi perempuan.
Yang menciptakan boneka Barbie sendiri adalah seorang perempuan yang punya keresahan. Namun, saya kurang sepakat dengan ciri khas bonekanya. Di desain dengan sangat cantik dan menarik. Seolah ingin membentuk stigma baru pada perempuan. Perihal tubuh. Tubuh Barbie diciptakan hanya satu bentuk sangat proporsional dan menjadi cita-cita setiap perempuan. Sedangkan tubuh perempuan punya beragam bentuk.
Pada akhirnya, saya menimbang lagi perihal "ingin jadi barbie aja", maunya "tinggal di Barbieland aja kalo bisa" HAHA
Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar yang membangun yaa gaess :)