Bertahan, Bertumbuh, Berdampak: Cerita juga Catatan tentang Dua Tahun Manado Book Party
Dua tahun yang lalu, di sebuah kafe, saat badai menerjang kota Manado, kami bertemu. Tidak ada niat besar. Hanya sekadar ingin bertukar cerita selepas kelulusan kuliah: tentang pekerjaan pertama, cita-cita yang mulai diuji realitas, tentang cinta dan hal receh lain yang membuat kita semakin menyatu. Diantara obrolan ringan itu, salah seorang dari kami mengangkat cerita tentang satu kegiatan baca buku yang sedang viral di ibukota. Ternyata algoritma kita sama: book party.
Dari sana, diskusi perihal buku dan membaca mengalir dalam obrolan kita. Lalu, kegelisahan itu keluar satu per satu.
Kegelisahan kami sederhana: mengapa begitu sulit menemukan ruang membaca dan berdiskusi yang santai bagi anak muda? Bukan ruang yang formal dan kaku, bukan pula sebuah forum yang membuat orang segan untuk bertanya. Hanya ruang yang hangat, tempat buku bisa dibicarakan tanpa intimidasi dan perbedaan bisa diterima tanpa prasangka.
Dari keresahan yang sama, tiga perempuan ini memulainya. Langkah kecil yang tidak membawa modal besar atau panggung mewah. Sekadar surat izin pemkot karena menggunakan fasilitas umum dan satu flyer yang di sebar lewat media sosial. Memulai dengan sebuah keyakinan bahwa dari percakapan yang sehat (tidak melulu soal gibahin orang) bisa mengubah cara pandang anak muda lain yang sedang mencari "ruang" baca, dan bahwa membaca bersama bisa juga menjadi bentuk perlawanan sunyi terhadap budaya instan yang selama ini terus mengerus otak dan empati kita. Maka, lahirlah komunitas membaca ini, sebuah ruang alternatif yang hadir di tengah Kota Manado, biasanya kami di pinggir laut sambil melihat matahari terbenam, kadang pula di cafe jika cuaca sedang tidak bersahabat, terakhir kami sudah di ajak baca buku di dalam Toko Gramedia, satu capaian baik di tahun kedua MBP.
Di tahun ke dua ini, bertahan berarti konsisten hadir bahkan ketika yang hadir tak selalu ramai. Bertahan berarti tetap membuka ruang diskusi meski minat baca kerap dianggap rendah, MBP memilih tidak berhenti namun terus bertindak dengan jalan pelan-pelan. Karena dalam kacamata teori kognisi sosial, ruang seperti ini sesungguhnya lebih dari sekadar tempat berkumpul. Manusia belajar melalui pengamatan dan interaksi sosial. Cara seseorang menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, atau mengkritik argumen tanpa menyerang pribadi, semua itu dipelajari melalui pengalaman bersama. Diskusi buku yang sederhana bisa menjadi arena pembentukan karakter sosial.
Ketika anak muda atau yang lazim kita sebut genZ berani menyampaikan interpretasinya tentang sebuah novel, lalu mendengar perspektif lain yang berbeda, ia sedang berlatih regulasi diri dan empati. Ia belajar bahwa kebenaran tidak selalu tunggal, dan bahwa perbedaan bukan sebuah ancaman. Ini fondasi dari literasi yang selalu luput dari perhatian: kemampuan memahami teks sekaligus memahami manusia.
Di tahun kedua ini, bertahan saja tidak cukup. Ini adalah fase bertumbuh. Bertumbuh berarti memperluas jangkauan, memperkaya isi bacaan, dan membuka pintu bagi lebih banyak suara. Jika pada awalnya ruang ini lahir dari keresahan tiga perempuan, kini ia menjadi milik bersama. Milik anak muda yang butuh ruang.
Di era banjir informasi dan kecerdasaan buatan, tantangan literasi bukan lagi soal akses buku yang mahal itu, melainkan kemampuan memilah informasi, mengkritik narasi dan isu juga menahan diri dari reaksi-reaksi impulsif. MBP hadir menjadi laboratorium kecil bagi praktik dialog-dialog kecil yang beradab.
Di tahun kedua, selain bertahan dan bertumbuh, MBP juga berupaya agar bisa berdampak. Menjangkau mereka yang belum merasa literasi adalah bagian penting dari hidupnya. Berdampak berarti keluar dari zona nyaman dan aman, kolaborasi dengan komunitas lain atau mungkin bisa menyapa hingga ke sekolah-sekolah. Dalam perspektif kognisi sosial, perubahan perilaku lahir dari interaksi timbal balik antara individu, lingkungan, dan tindakan. Jika ruang publik dijadikan ruang aman untuk membaca dan berdiskusi, maka budaya baik itu akan terbentuk dan mengakar kuat.
Lalu, dari tiga perempuan sibuk yang juga sedang mengupayakan diri dalam karir dan cita-cita mereka sendiri, ada satu kepekaan yang melahirkan sebuah perubahan sosial kecil. Kepekaan mengisi ruang-ruang kosong. Tidak menunggu kebijakan besar yang turun dari atas, tapi bergerak dari bawah membangun sebuah ekosistem yang semoga terus konsisten.
Dua tahun mungkin masih sangat muda. Namun bagi komunitas berbasis sukarela, dua tahun ini adalah bukti daya tahan. Ia adalah cerita tentang komitmen, tentang waktu yang disisihkan di sela kesibukan, tentang energi yang tetap menyala meski sering lelah.
Pada akhirnya, ini bukan hanya perayaan usia, ini adalah pengingat bahwa literasi adalah kerja kolektif. Bahwa membaca adalah tindakan sosial. Bahwa diskusi kecil-kecilan adalah latihan demokrasi. Dan bahwa ruang santai yang dibangun dengan ketulusan semoga bisa jadi titik mula perubahan yang lebih luas untuk kota Manado tercinta.
Terima kasih untuk kedua sahabat perempuanku, Sinta dan Orchid. Untuk segala daya dan upaya yang terus dipersembahkan. Semoga kita terus bertahan, bertumbuh, dan benar-benar berdampak.
Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar yang membangun yaa gaess :)