Apakah laki-laki dan perempuan tidak bisa berteman?

Apakah laki-laki dan perempuan tidak bisa berteman?

Benarkah pertemanan antara laki-laki dan perempuan akan selalu berakhir pada satu hubungan romantis?

Kenapa orang-orang selalu mencurigai pertemanan antara seorang laki-laki dan perempuan?

Ini adalah beberapa pertanyaan yang akhir-akhir ini mengganggu pikiran saya.

    Semenjak mengakhiri hubungan terakhir saya dengan seorang laki-laki aka jomlo. Ketika berteman dengan laki-laki, saya sering dikira memiliki hubungan khusus dengan orang tersebut. Padahal, menurut saya membangun sebuah hubungan romantis tidak semudah itu. 

   Saya pun bingung, apakah setiap pertemanan laki-laki dan perempuan harus selalu berakhir pada perasaan cinta atau yang biasa kita sebut baper?

    Mungkin ada beberapa faktor yang membentuk perspektif orang perihal pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Sejak masih anak-anak, anak laki-laki kurang diperkenankan bermain dengan anak perempuan dikarenakan permainan anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan. Padahal kan yaa, permainan tidak punya jenis kelamin. Akan selalu ada yang mengatakan -tidak baik laki-laki berteman dengan anak perempuan, nanti akan jadi banci- atau mengejek anak laki-laki yang bermain bersama anak perempuan dan sebaliknya kalau anak perempuan bermain dengan anak laki-laki anak jadi 'tomboy'. Sudah ada batasan sejak kecil.

    Sejak dini, pertemanan anak laki-laki dan perempuan selalu dilekatkan pada sesuatu yang romantis. Beberapa orang dewasa dengan mudahkan menjodoh-jodohkan anak laki-laki dan anak perempuan. Padahal, dunia anak-anak adalah dunia bermain, bukan dunia perjodohan. Jika mungkin ketika dewasa nanti mereka mempunyai perasaan cinta, biarkan itu mengalir sesuai dengan perjalanan hidup mereka.

    Dikarenakan sudah sejak kecil praktek perjodohan ini dilanggengkan di masyarakat. Hal ini berakibat juga pada pandangan kita saat dewasa. Ketika seorang laki-laki dewasa berteman dengan perempuan dewasa, ini bisa menjadi perhatian khusus bagi masyarakat umum aka netizen. 

    Sebelumnya, saya pernah mengalami hal ini beberapa kali. Saya dekat dengan seorang laki-laki yang karena satu kebetulan dan tanggungjawab bersama, kita selalu sama-sama dalam waktu yang cukup lama. Saya selalu menganggap dia adalah teman baik saya. Kita punya perspektif yang sama dalam beberapa hal. Kita menjadi teman diskusi yang nyambung. Dan persamaan lain, sebagai seorang teman. 

    Namun, ternyata pertemanan kita tidak benar-benar dipandang hubungan pertemanan oleh orang-orang disekitar kita. Teman-teman kita sendiri yang sering mengolok dan men "cie-cie" kan hubungan kita. Akhirnya karena sering diejek, perasaan diluar rasa ingin berteman perlahan muncul. Lantas apakah ada hubungan antara suatu hubungan pertemanan yang diolok-olok berbuah menjadi baper atau bawa perasaan?. Apakah semudah itu perasaan muncul hanya karena diolok teman?. Saya bingung. Tapi dulu saya merasakan hal itu. Entah kenapa bisa. Dan itu dulu cukup sulit dijelaskan. Ini menjadi pengalaman yang akhirnya bisa saya uraikan sebagai unek-unek. Juga ingin mencari jawabannya yang mungkin bisa hadir dari pembaca yang membaca tulisan ini. Fyi sekarang saya tidak ada perasaan apa-apa terhadap teman saya itu. Saya berkesimpulan, perasaan yang dulu muncul hanyalah perasaan kagum yang bisa hilang seiring berjalannya waktu.

     Pertanyaan yang saya tulis sebagai kalimat pembuka tulisan ini adalah pertanyaan yang saya sendiri masih menelisik sebab-musababnya. Banyak faktor sampai terbentuknya pemikiran masyarakat perihal laki-laki dan perempuan ini. Dan mungkin, faktor patriarki mengambil peran terbanyak yang membentuk pola pikir kita. Saya pernah baca satu quotes yang lewat di beranda instagram saya. Isinya seperti ini “Tidak ada yang namanya pertemanan antara laki-laki dan perempuan, kalau ngak ceweknya baper ya cowoknya yang baper. Kalau ada yang bilang sama-sama nggak punya rasa, pasti ada salah satu yang menyangkal perasaannya. Pure sahabat lawan jenis itu omong kosong”.

     Ini mencengangkan bukan? Banyak orang yang memvalidasi quotes tersebut. Masyarakat secara luas sudah punya pemikiran bahwa tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Seolah kita di takdirkan hanya untuk menjadi satu dalam hubungan romantis saja. Padahal kita adalah makhluk sosial, yang tidak bisa dipungkiri pasti akan saling terhubung selama berkehidupan di dunia. Entah sesama jenis ataupun dengan lawan jenis.

     Ada baiknya, mulai dari sekarang, kita membentuk konsepsi baru perihal pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Bahwa laki-laki dan perempuan bisa berteman layaknya peretemanan antara laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. Laki-laki dan perempuan bisa bersahabat. Karena akan sulit menjalin hubungan pertemanan ketika kita terus mengadopsi konsep patriarki yang hanya menyusahkan itu.

    Saya senang berteman dengan laki-laki. Dan saya tidak ingin teman laki-laki saya baper hanya karena dia mengira saya menyukainya karena saya berteman dengannya. Begitupun sebaliknya. Saya tidak ingin baper pada teman laki-laki hanya karena kita biasa jalan berdua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

79 tahun HMI: Tetap Hijau, Bukan Karena Usia. Melainkan Kesadaran yang Terus Tumbuh.

Bertahan, Bertumbuh, Berdampak: Cerita juga Catatan tentang Dua Tahun Manado Book Party

****