Sedikit Ulasan Film Hati Suhita

Sedikit Ulasan Film yang baru saja di tonton, Film yang berlatar belakang kehidupan di pesantren modern ini cukup menarik. Awalnya saya tidak berekspektasi besar untuk film seperti ini. Tapi yang ini cukup berkesan.

Film ini berlatar belakang kehidupan pesantren,  walau bukan anak pesantren tapi ekspektasi saya tentang pesantren itu agak tidak baik. Saya tidak suka kehidupan di pesantren yang 'kelihatannya' tidak bebas, terkungkung, monoton, banyak aturan, kaku, terbatas untuk perempuan apalagi akhir-akhir ini banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi dalam lingkungan pesantren.  Tapi, mungkin itu hanya asumsi saya saja. Saya juga belum pernah berkunjung ke pesantren di luar daerah saya yang (islamnya) minoritas.

Film ini mengangkat cerita seorang perempuan (santriwati dari pesantren itu) yang dijodohkan dengan anak tunggal dari keluarga pemilik pesantren tersebut. Tidak ada cinta dalam perjodohan itu. Dalam film ini memperlihatkan lingkungan pesantren yang bersih, punya nilai-nilai kesetaraan, tidak mengungguli salah satu gender. Artinya laki-laki dan perempuan sama-sama bisa belajar dan mendapatkan fasilitas yang sama. Dicontohkan juga dengan kisah rumah tangga Abah dan Ummi (pemilik pesantren) yang selalu berdiskusi perihal agama dan perkembangan pesantren.

Tokoh utama laki-laki yang dipanggil -Gus- masih mempunyai kisah cinta yang belum selesai dengan seorang perempuan aktivis. Iya, jadi ada dua tokoh perempuan yang di sandingkan dengan Gus. 

Perempuan yang dijodohkan orangtuanya adalah perempuan yang besar di lingkungan pesantren yang akhir menjadi pengajar di pesantren tersebut. Perempuan satunya, dia adalah seorang aktivis kampus. 

Yang menarik disini, Suhita yang kisah rumah tanggannya tidak hadir dari rasa cinta, memilih untuk bersabar dan berdoa sembari mencoba melakukan hal-hal yang bisa menarik perhatian suaminya. Dan Rengganis, perempuan tegas pemilik masa lalu dari Gus memilih jalan mengikhlaskan perasaannya walau butuh waktu untukitu. Tidak ada persaingan antar sesama perempuan dalam film ini. Tidak ada saling menonjolkan diri untuk supaya dilirik laki-laki. Keduanya sama-sama cerdas dan bermartabat. 

Suhita dengan medan perangnya adalah rumah tangganya sendiri bisa berhasil memenangkan peperangan dengan kecerdasannya. Dengan buku-buku yang dia baca, dengan keberanian mengungkapkan isi pikirannya, dengan ketulusan hatinya. Ini keren dan sulit dicontoh haha.

Rengganis yang tegas juga keikhlasan hatinya melepaskan laki-laki yang ia cinta. Dia tidak memaksakan sesuatu yang tidak bisa dia genggam. Dia cerdas dengan intelektualnya. Berani mengambil keputusan untuk pergi belajar ke negeri Belanda.

Ummi dan Abah yang menjadi panutan suami istri pemilik pesantren yang kaya, dermawan, cerdas, tidak kaku tapi tetap berprinsip mengembangkan Islam. Punya waktu berdiskusi tentang apa saja. 

Film ini memberi pesan pada saya pribadi tentang baiknya pesantren. Tentang perempuan bisa melakukan apa saja yang ia mau, berbicara dengan kapasitasnya, modern, dan lagi-lagi TIDAK KAKU dalam bersosial  

Di akhir film ada scene yang paling saya suka. Tapi tidak akan saya tuliskan disini, takutnya jadi Spoiler hehe
Cukup segini saja yaaa kalo kepanjanganbisa bisanya seluruh isi cerita film saya tulis disini. Kan tidak menarik lagi untuk di tonton. Kalian juga saya sarankan untuk menonton ini. Yang belum menikah, nonton sama teman saja haha. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

79 tahun HMI: Tetap Hijau, Bukan Karena Usia. Melainkan Kesadaran yang Terus Tumbuh.

Bertahan, Bertumbuh, Berdampak: Cerita juga Catatan tentang Dua Tahun Manado Book Party

****