Renungan (atau overthinking?) pasca hadiri undangan anak 3 tahun.
Entah ini sebuah renungan atau sekadar overthinking saja. Saya kurang tahu jelasnya. Inti ceritanya begini..
Hari ini saya menghadiri undangan salah satu kerabat atau sudah bisa dibilang saudara. Undangan perayaan ulang tahun ketiga tahun ponakannya. Ohh yaa teman saya itu pasca menikah langsung pindah daerah yang jaraknya sangat jauh, tapi karena kedekatan emosional dengan keluarganya jadinya saya dapat undangan ponakannya.
Singkat cerita..
Saya hadir lebih awal dengan niatan mau bantu-bantu kakaknya teman saya untuk mempersiapkan hal-hal kecil yang bisa saya lakukan.
Saya datang sendiri (iya sendiri, belum menikah apalagi punya anak), menyusul teman saya belakangan. Saya duduk di meja penerima tamu dan dapat tugas mencatat tamu undangan yang hadir. Dari sinilah renungan saya dimulai, saat saya terdiam dan mengambil hikmah tentang apa saja yang terjadi setengah hari ini.
Tadi sore, saya menerima tamu anak-anak kurang lebih 100 anak beserta orangtua yang menemani mereka. Cukup banyak bukan? Saya mencatat nama yang beragam, unik, tapi ada juga nama yang sama. Sembari mencatat nama-nama ini. Hati saya yang tidak punya suara ini bertanya 'Kenapa mereka mau punya anak?' 'Apa arti mempunyai anak bagi mereka?'. Begitu sepanjang saat mencatat. Saya memperhatikan sedikit tingkah beberapa orangtua yang bikin saya geleng kepala.
Malam hari saat kembali ke rumah, saat masih bersih-bersih di kamar mandi saya tiba-tiba memikirkan banyak hal tentang hari ini. Dan maka dari itu saya bingung sendiri menyebut apakah ini renungan atau overthinking semata.
Saya secara spontan berbicara pada diri sendiri -dalam dialek sehari-hari- 'Mi, kayaknya ngana sangat belum siap menikah dan punya anak'. Dan sepertinya itu benar. Saya belum siap sama sekali atau takut? Saya sendiri bingung.
Nah ini yang mau saya bahas lebih dalam, malam ini dalam tulisan di blog yang jarang saya sapa ini. Ohh iya, ini perihal diri saya sendiri yaaa... tidak ada maksud lain.
Ketakutan itu sendiri muncul mungkin karena beberapa faktor yang saya temui (r; pengamatan) atau alami (r; pengalaman).
Menikah itu kata orang-orang 'indah', tapi saya belum melihat keindahan itu (r; estetika). Saya melihat orang yang sudah menikah seperti terkekang dan mengekang satu sama lain. Hak bebas orang yang sudah menikah itu sangat terbatas dan dibatasi. Dan ketakutan terbesar saya; takut tidak bebas.
Ketika sudah menikah, banyak sekali orang yang ingin mempunyai anak. Seperti pertanyaan saya diatas 'apa alasan orang-orang ingin mempunyai anak' yang sampai saat ini belum berani saya tanyakan kepada teman, saudara, atau siapapun yang sudah memiliki anak (termasuk kepada orang tua saya). Ini akan saya tanyakan nanti setelah saya sudah bisa berpikir dan berperasaan baiik terhadap jawaban yang nanti akan mereka sampaikan. Iya sekarang saya masih sering berperasangka buruk.
Ini ketakutan kedua saya. Saya takut mempunyai anak bukan hanya karena kebebasan individu saya yang sudah pasti akan tersingkirkan. Tapi, saya takut gagal menjadi orangtua. Saya takut emosi-emosi saya yang sangat belum stabil ini mempengaruhi tumbuh kembang seorang manusia.
Saya suka anak-anak. Tapi saya takut punya anak.
Ohh iya, sekali lagi jika teman-teman membaca tulisan ini. Jangan menghardik yaaa. Ini hanya perenungan saya saja atau mungkin overthinking saja yang sudah saya sampaikan dari awal. Ini hanya perasaan yang saya rasakan malam ini yang coba saya uraikan dalam blog saya.
Saya sendiri masih terus belajar. Entah nanti kapanpun itu ketika saya sudah siap dan punya takdir untuk menikah. Pastinya saya akan menjalaninya. Dengan baik.
Saya masih mengumpulkan hipotesisnya.
Saya percaya takut itu hanya perasaan sementara, bisa kapanpun berubah menjadi berani. Dan saya juga percaya soal nasib dan takdir.
Tapi, saya punya prinsip. Waktu saya adalah apa yang saya pilih dan jalani dan bukan kehendak orang lain untuk menentukan jalan dan menuntun saya berjalan.
Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar yang membangun yaa gaess :)