Bisakah kita memilih untuk tidak memilih?
Terlahir sebagai seorang perempuan adalah ketetapan yang tidak bisa ditinjau kembali -jika terdapat kekeliruan didalamnya-
Sama halnya dengan laki-laki, perempuan pun punya hak yang sama. Dan itu sepertinya sudah tuntas kita bicarakan. Sebagai seorang manusia, sebagai seorang khalifah di muka bumi.
Namun kenyataannya, perempuan selalu dipukul mundur dengan berbagai realitas. Dan realitas dominasi adalah hal yang paling sulit ditabrak oleh perempuan itu sendiri.
Dominasi laki-laki. Yaaa, dunia ini didominasi oleh satu kelompok gender. Gender laki-laki. Kita dibesarkan di dunia yang punya aturan mengikuti standar laki-laki -kelompok terkuat-. Jika tidak sesuai standar, kita akan di judge sebagai manusia yang salah dan tidak taat aturan. Kaum-kaum marjinal harus tetap tabah.
Beberapa perempuan diberi pilihan di antara pilihan yang semuanya disukai atau yang dia tidak suka, dan beberapa perempuan tidak diberi pilihan sama sekali. Pada akhirnya dia tidak punya kesempatan untuk berkembang.
Bisakah perempuan menentukan pilihannya tanpa diberi pilihan?
Katanya, sekarang sudah tidak zaman lagi mendebatkan soal peran. Semua gender sudah bebas memilih peran masing-masing.
Tapi nyatanya masih banyak sekali ketimpangan di berbagai sektor kehidupan bermasyarakat.
Kartini yang di idolakan sebagai tokoh perempuan nasional yang ide dan gagasannya sangat mempengaruhi pola pikir masyakarat, surat-surat yang ditulis olehnya diterima dan dibaca hingga mancanegara hanya berakhir pada perayaan konde dan kebaya yang setiap tahun diperingati oleh para -dharmawanita-
Emansipasi hanya sekadar buaian semata. Sama sekali tidak merata. Padahal, dalam setahun, kita memperingati 3 hari besar perempuan. Tapi, peringatan hanya sebatas pengingat perjuangan-perjuangan perempuan internasional, kartini dan hari Ibu. Setelah itu banyak orang lupa pentingnya memberi dukungan penuh pada perempuan. Bahkan sesama perempuan sering saling sikut.
Perempuan harus bisa memilih. Dengan pilihannya sendiri.
Memilih terus sekolah, memilih bekerja, memilih menikah -di usia berapapun-, memilih calon pasangan hidupnya, memilih ingin punya anak atau tidak, memilih tidak menikah, atau memilih untuk jadi single parent. Perempuan hanya perlu diberi ruang aman dan dukungan. Dan segala pertanggungjawaban hanya berlaku jika perempuan sudah bebas memilih.
Dear perempuan.. Selamat hari Kartini!
Kondisi setiap kita memang berbeda-beda, kita tidak perlu menjadi sama apalagi disamakan. Tidak perlu membanding-bandingkan diri dengan yang lain. Realitas kehidupan akan menjadikan kita manusia tangguh. Tidak perlu saling menjatuhkan dan menyalahkan. Tidak juga saling melukai.
Kita tidak perlu validasi orang lain. Kita berharga dari nilai-nilai yang kita jalani. Jangan risau dan jangan takut mengambil peran.
Ohh yaa.. perempuan cemerlang selalu punya cara untuk berkilau dimanapun dia berpijak.
Bahagia selalu...
Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar yang membangun yaa gaess :)