Perempuan, Kecantikan dan Tubuh Indah
Tuntutan kecantikan secara terus menerus ditekankan pada perempuan. Sejak kecil, perempuan sudah ditanamkan bahwa kecantikan dan tubuh yang indah itu sesuatu yang penting. Padahal perihal cantik dan indahnya tubuh hanyalah standar sosial masyarakat saja. Sejak kecil pula, perempuan terbiasa mengikuti kontes-kontes kecantikan seperti kontes busana, atau kontes kecantikan yang pada akhirnya membentuk perempuan menjadi seseorang yang selalu ingin bersaing deng perempuan lagi demi mendapatkan "reward" dari masyarakat.
Sementara itu, di sisi lain dalam dunia industri kecantikan, media mengonstruksikan kecantikan perempuan dengan iklan-iklan produk kecantikan yang dibawakan oleh model-model cantik (yang sesuai standar cantik masyarakat) agar perempuan ikut terpikat dan membeli produk kecantikan tersebut. Iklan-iklan kecantikan lazimnya memuat tentang pandangan laki-laki kepada perempuan yang menggunakan produk kecantikan tersebut. Industri kecantikan seolah memberi pesan pada perempuan yang ingin "cantik" dan dilirik laki-laki haruslah menggunakan produk kecantikan tersebut.
Dalam industri kecantikan, model-model perempuan yang digunakan untuk mengiklankan produk tersebut juga di filter kekurangannya dan di edit agar bisa menampilkan bentuk tubuh dan paras wajah yang sempurna. Ini yang menjadikan kita (sebagai penonton) turut merasa iri dan ingin mengikuti model tersebut dengan cara membeli produk sebanyak banyak. Padahal model-model yang di tampilkan bukanlah representatif perempuan pada umumnya.
Dengan pengeksposan secara berlebihan ini, tidak heran jika perempuan selalu memonitori tubuhnya secara berlebihan. Menjadikan tubuh sebagai fokus utamanya dengan membandingkan apakah dia sudah cantik atau tidak.
Dalam beberapa kejadian, untuk mengatasi ketidaknyamanannya perempuan juga sering melakukam kamuflase untuk menutupi bagian tubuhnya. Misal dengan menutupi sesuatu di bagian paha nya agar tidak terlihat besar ketika sedang duduk atau menutupi dadanya dengan barang yang ia bawa ketika sedang berjalan. Ini yang menjadikan kecantikan dan tubuh indah sebagai aspek terpenting dalam membangun harga diri perempuan.
Perempuan akan menjadi cemas dengan ketidaksempurnaannya, dia akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa sesuai dengan standardisasi yang diberikan masyarakat. Dia akan mencoba berbagai cara hingga akhirnya dia menderita. Tekanan permanen yang diberikan masyarakat dalam hal kecantikan dan tubuh indah bisa saja berdampak buruk bagi kesehatan mental perempuan.
Lalu, pernahkah kita bertanya kepada perempuan, untuk apa dan siapa sesungguhnya mereka melakukan ini? Mengapa mereka mau menderita demi menjadi "cantik"?. Kita tidak akan menemukan jawaban dari persoalan diatas soal industri kecantikan, kita tidak akan mendengarkan jawaban soalnya masyarakat lah yang membuat perempuan menderita dengan standar sosialnya, dan kita juga tidak akan mendengar bahwa perempuan menjadi cantik hanya ingin menyenangkan laki-laki agar laki-lakinya tidak melirik perempuan lain. Yaaa kita tidak akan mendengar jawaban-jawaban seperti itu. Yang akan kita dengar adalah perempuan ingin cantik karena itu bagian dari memuaskan diri sendiri dan menyenangkan diri sendiri. Kalau kata filsuf feminis Elisabeth Badinter; perempuan sendiri telah menginternalisasi nilai-nilai masyarakat sebagai nilai-nilai mereka sendiri.
Tapi, tak apa, apapun jawaban perempuan pada akhirnya perempuan hanya menginginkan sesuatu yang terbaik untuk dirinya. Karena upaya menjadi "cantik" dalam bentuk bagaimanapun itu adalah upaya apropriasi positif terhadap tubuhnya yang sudah sekian lama diinstrumentalisasikan dan dijadikan budak. Kita perempuan bisa memilih menjadi cantik sesuai keinginan kita, bukan cantik yang dipaksakan untuk kita.
Sehat-sehat untuk seluruh perempuan di Dunia
Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar yang membangun yaa gaess :)