Ramadan 1442 H

Bulan Ramadan selalu saja menuai banyak sekali makna. Dan seharusnya makna-makna itu harus tetap menghiasi keseharian setelah berlalunya Ramadan.

Ramadan kali ini terhitung Ramadan kedua yang di rayakan pun di rasakan di tengah carut marut permasalahan dunia yakni pandemi. Hanya saja, di kehidupan normal baru pembatasan sosial tidak se ketat tahun yang lalu. Cafe ramadan dibuka di berbagai tempat dengan menaati protokol kesehatan, toko-toko perbelanjaan yang setiap hari pasti ramai, anak-anak komplek yang siap sedia keliling bangunkan sahur, jajanan-jajanan buka puasa berjejer sepanjang jalan raya, dan banyak hal yang bisa di rasakan kembali setelah setahun berpuasa dengan keramaian. Adalah sesuatu yang lagi-lagi harus kita syukuri.

Bulan Ramadan adalah bulan yang paling di tunggu-tunggu umat Islam. Banyak yang berbahagia di bulan suci ini. Di kota Manado, kebahagiaan ramadan pun tersebar mungkin ke penganut agama lain yang bisa kita lihat di acara buka puasa bersama instansi pemerintah, anak-anak sekolahan dan mahasiswa atau cafe-cafe yang hanya di buka saat bulan ramadan saja. Kita sama-sama menikmati meriahnya bulan baik ini.

Bulan istimewa ini selalu jadi bulan silaturahmi bagi saya sendiri dan mungkin juga bagi mereka yang merasakannya. Bulan ini jadi titik pertemuan setelah beberapa tahun tidak absen kumpul-kumpul dengan teman sejawat saat sekolah dulu. Setelah setahun tidak bisa kemana-mana karena di kurung oleh covid. Ramadan tahun ini alhamdulillah bisa bertemu.

22 hari ber Ramadan di Kota Manado, menghabiskan 10 hari penuh di rumah dan sisanya beberapa kali agenda buka puasa bersama sebelum akhirnya memutuskan diri untuk jalan-jalan ke Gorontalo. Dengan penuh pertimbangan di karenakan panjangnya waktu yang akan di habiskan di kota ini berkat peraturan larangan mudik per tanggal 6 sampai 17 mei. Hal yang cukup berat untuk meninggalkan Kota Manado.

Sudah lama memang kurang lebih 10 tahunan tidak merasakan hangatnya ber Ramadan di kota ini (Gorontalo). Kota dengan keramaian yang berbeda. Tapi akhirnya takjub juga.

Setelah beberapa hari di Kota. Akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu Ramadan di kampung halaman almarhum opa. Suwawa. Tepatnya di desa Alale. Dengan keluarga yang ramai juga hangat. Melihat para teman-teman sekitar yang sibuk mempersiapkan semarak malam pasang lampu atau disini dikenal dengan Tumbilotohe. Memang tidak ramai seperti kota. Hiruk pikuk kendaraan pun tak selalu terdengar. Tapi saya menikmati suasana desa yang syahdu itu. Jarang di temukan ketika kembali ke Manado.

Bertemu dengan 30 Ramadan ada sebuah kesedihan tersendiri. Entah akan bertemu lagi dengannya atau tidak. Tak ada yang tahu. Hanya saja, setiap manusia selalu punya doa. Doa untuk nanti bisa di beri kesempatan lagi berjumpa dengan bulan baik ini. 

Pada akhirnya, harus mengucap ucapan terimakasih terkhusus untuk Ramadan sembari memohon maaf karena lagi-lagi masih belum maksimal khususnya dalam beribadah.




Ami, 
Gorontalo, 30 Ramadan 1442 Hijriah - 12 Mei 2021 Masehi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

79 tahun HMI: Tetap Hijau, Bukan Karena Usia. Melainkan Kesadaran yang Terus Tumbuh.

Bertahan, Bertumbuh, Berdampak: Cerita juga Catatan tentang Dua Tahun Manado Book Party

****