Curhat di Hardiknas

Jurusan psikologi yang terparkir di sebuah sekolah bermain adalah sesuatu yang lumrah walau masih sedikit canggung untuk diri yang sejak awal tak berkeinginan di dunia pendidikan. 

Dengan modal "memahami" perilaku setiap manusia, memang bukan hal yang sulit sebenarnya untuk berhadapan dengan anak-anak. Dunia anak-anak sangat menyenangkan. Namun saja, dengan modal itu tak cukup untuk menjadi seorang pendidik. Ada hal-hal khusus yang harus dipelajari terlebih dahulu.

Usia 4-5 tahun adalah periode perkembangan otak manusia. Pada masa itu bagian-bagian otak berkembang secara keseluruhan. Begitu pula dengan motoriknya. Menanamkan kebiasaan yang baik di ikuti dengan mencontohkannya, memberi hafalan-hafalan ringan, mengenalkan berbagai macam benda, warna, suara, gerakan juga bernyanyi riang gembira, bercerita panjang lebar dan tak lupa selalu menanggapi berbagai serangan pertanyaan ala anak-anak. Itu semua dipelajari secara otodidak dan mungkin masih jauh dari standar pendidikan anak usia dini secara kurikulum nasional.

Pengujian hampir setahun dan selalu punya kesimpulan; itulah kenapa mendidik anak harus punya ilmu dan pengalaman yang banyak juga hati yang lapang.

Disisi lain dan baik bagi yang belum punya ilmu dan pengalaman; bisa melatih kematangan emosional adalah hal terbesar yang di dapat dalam dunia ini. Kesiapan menjadi seorang "ibu" pun perlahan-lahan mulai terbentuk. Dan itu hal yang patut di syukuri.

Di lain sisi pula ada hal sulit, yang sejak awal lulus dengan gelar sarjana psikologi tak pernah membayangkan diri untuk terjun ke dunia pendidikan, mempelajari kurikulum dan penyesuaiannya kepada aktivitas murid adalah sesuatu rasanya riwet, karena kembali lagi ada hal yang harus di ingat bahwa menjadi pendidik bukan hanya tentang memahami saja tapi juga tentang memberi. Pemahaman dan pemberian menurut saya adalah kunci awal untuk terjun ke dunia ini. Pada akhirnya "ikhlas" harus selalu terpatri dalam diri.

Selalu ingat dengan kalimat ini "menjadi pendidik itu bukan tentang mencari penghidupan, tapi tentang menghidupi kehidupan". Kalimat sakral ini terus ada di pikiran. Walau seringkali bertabrakan dengan realitas kehidupan yang sering dikira punya banyak uang karena memimpin sebuah sekolah. Padahal, awal mulanya sekolah itu berdiri hanyalah sebuah bentuk pengabdian pada himpunan dan kebermanfaatannya pada masyarakat sekitar. Tidak untuk mencari uang dan menjadi kaya raya seperti yang dipikirkan banyak orang (sentilan untuk banyak orang yang menaruh harap pada saya yang berstatus kepala RA).

Lalu, di sekolah yang diberi nama -Insan Cita- ini adalah tempat kembali belajar. Setelah itu, muncul banyak kesadaran bahwa di dunia yang semakin mencemaskan ini; pendidikan adalah jalan utama untuk anak-anak bertahan hidup dimasa mendatang. Dan anak-anak pangian (nama desa yang di dirikan sekolah) harus mendapat akses pendidikan sejak dini untuk memperkuat perkembangan otak mereka. 

Lanjut lagi, di hari pendidikan nasional ini. Dengan segala curahan hati. Semoga saja semakin banyak orang yang peduli tentang pentingnya pendidikan juga akses dan hak yang sama dalam mendapatkannya. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

79 tahun HMI: Tetap Hijau, Bukan Karena Usia. Melainkan Kesadaran yang Terus Tumbuh.

Bertahan, Bertumbuh, Berdampak: Cerita juga Catatan tentang Dua Tahun Manado Book Party

****