Dua Puluh Tiga; Sebuah Perenungan
Perjalanan cukup panjang melewati dua puluh tiga tahun kehidupan. Diberi nafas, akal dan pikiran, perasaan, tubuh jiwa dan raga yang sehat, kaki yang kuat, pundak yang sigap dan banyak hal yang seharusnya di syukuri.
Dua puluh tiga tahun kehidupan. Di usia yang ini, pada beberapa tahun lalu sempat punya angan ingin menikah. Dengan optimis angan itu bisa tercapai sebagai salah satu list kehidupan. Tapi makin kesini, makin mencapai dua puluh tiga tahun, ternyata eksistensi hidup bukan hanya tentang menikah. Banyak hal yang perlu di pelajari sebelum mengambil jalan panjang itu.
Pada usia dua puluh tiga tahun, pencarian identitas diri semakin menjadi-jadi. Penuh gelora dalam diri dengan banyaknya pertanyaan atas kehidupan itu sendiri. Seperti apa sebenarnya hakikat hidup. Apakah sesulit ini?.
Dua puluh tiga tahun, awal dari krisis kehidupan. Di hadapkan dengan pilihan-pilihan yang tidak mudah. Lebih utama apa?membahagiakan orang lain atau diri sendiri?. Kebebasan yang terpenjara. Pemikiran yang dipersempit. Air mata yang tidak terlihat. Dan perasaan bersalah atas terjadinya banyak hal.
Dua puluh tiga tahun dengan gelar dan jabatan. Gelar dan jabatan bak beban hidup berkilogram beratnya di tumpukkan diatas kepala. Tidak selalu mudah. Banyak harap dari mereka. Begitulah katanya hidup. Harus di jalani bagaimanapun jalannya.
Dua puluh tiga tahun, tepat dengan 4 Ramadan 1442 h. Pada hari Jumat. Semoga segala doa dan harap itu adalah kebaikan yang nantinya selalu menemani langkah panjang ini.
Jangan menyerah pada hidup yang singkat ini, Rasmianti.
Selamat ulang tahun. Selamat menjalani hidup pada usia ini. Dua puluh tiga tahun. Tetap kuat. Tidak lupa selalu bersiap untuk Mati. Dan jangan lupa selalu memberi apresiasi terbaik untuk kamu sendiri.
Komentar
Posting Komentar
Tuliskan komentar yang membangun yaa gaess :)