Peringatan Hari Ibu; Perayaan tentang Perempuan

"Pada tahun 1938, Kongres Perempuan Indonesia III yang dilaksanakan di Bandung dan memberikan hasil bahwa tanggal 22 Desember pada setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Ibu. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan tanggal 22 Desember merupakan Hari Nasional yakni Hari Ibu melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 pada tanggal 16 Desember 1959 pada Ulang Tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928". Sedikit sejarah tentang penetapan hari Ibu di Indonesia. 

Hari yang kita rayakan setiap tahunnya untuk beromantisme dengan ibu kita, pun dengan perempuan kesayangan kita berasal dari inisiatif perempuan-perempuan hebat masa kolonial. Salut bagi mereka yang tak henti memikirkan nasib kaum kita; kaum perempuan.

Ditetapkannya hari Ibu dimulai dari pembahasan tentang hak-hak perempuan, tentang pernikahan dini perempuan, tentang pendidikan perempuan, tentang kesehatan perempuan yang wajib dipenuhi, tentang pemberdayaan perempuan dan tentang pilihan-pilihan dari perempuan itu sendiri.

Perlahan, peringatan hari Ibu mulai bergeser dari esensi dan semangat yang dulu. Beberapa perayaan hanya berfokus pada "bagaimana menjadi Ibu dan Istri" yang baik bagi anak dan suami. Hal itu menyebabkan perayaan hari Ibu berubah menjadi selebrasi peran domestik perempuan.

Tapi, kita masih punya waktu untuk merayakan hari Ibu dengan semangat perjuangan perempuan dini. Perempuan yang menjadi Istri dan Ibu, perempuan yang menjadi Istri dan belum memiliki anak. Perempuan pekerja publik, perempuan yang bekerja domestik. Perempuan yang menjadi Ibu sekaligus Ayah. Perempuan yang belum menikah, yang sudah menikah, juga yang tak ingin menikah. Dan perempuan lain yang sedang berjuang sebagai seorang perempuan. Peran perempuan harus diberi apresiasi.

Saat menulis ini, ami berada di kegiatan Hari Ibu yang dirayakan oleh Ikatan Guru Raudhatul Athfal kota Manado dengan tema Bhakti Ibu Lindungi Anak Negeri. Melihat banyak Ibu dan perempuan hebat di ruang ini, mendidik dan membina anak usia dini yang begitu rumit dan butuh kesabaran super menjadi penambah bekal untuk semangat menjalani hari sebagai seorang guru Raudhatul Athfal. Dan juga menjadi seorang perempuan.

Merayakan hari Ibu adalah merayakan tentang perempuan. Tentang perempuan yang sedang berjuang melawan stigma. Tentang nasib perempuan yang termarjinalkan. Tentang perjuangan perempuan yang terabaikan. Juga tentang kasih perempuan yang terlupakan. Tapi kisah perempuan tak akan pernah lekang di makan zaman. Akan selalu ada.

Selamat hari ibu, menjadi tangguh dan berdaya adalah sebuah pilihan. Dan kita boleh memilih.

Selamat hari Ibu, semua perempuan dengan identitas keperempuanannya perlu dirayakan dengan bangga.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

79 tahun HMI: Tetap Hijau, Bukan Karena Usia. Melainkan Kesadaran yang Terus Tumbuh.

Bertahan, Bertumbuh, Berdampak: Cerita juga Catatan tentang Dua Tahun Manado Book Party

****