Negeri Penuh Tradisi

Tentang kita yang hidup di negeri penuh tradisi
Kita dijamah dengan tindakan supresiff
Setara sepertinya hanya gurauan semata
Bak cerita dongeng para narator ulung

Tentang kita yang melekat dengan stigma
Menikah muda disangka hamil duluan
Menikah di usia 30an di bilang terlalu banyak impian
Ketika tak menikah dicibir sampai menderita

Tentang kita yang tak banyak pilihan
Berpendidikan tinggi dibilang tak ada gunanya
Tak berpendidikan di kata bodoh
Bekerja dibilang tak peduli anak dan suami
Menganggur dibilang tak membantu keuangan keluarga

Tentang kita yang selalu punya tantangan
Baju terbuka di bilang pelacur
Baju tertutup di tuduh radikal 
Selalu salah memang menjadi kita

Bagaimana seharusnya kita?
Bukankah setiap tahun merayakan hari perempuan?
Bukankah setiap tahun merayakan hari Kartini?
Lantas kenapa semakin dirayakan semakin jauh dari kata setara?

Apakah perayaan tak punya makna apapun?
Ataukah perayaan hanya sekadar pencitraan tentang konde, sanggul atau kebaya?
Perjuangan tak punya arti apa-apa                              Emansipasi sebatas cita-cita

Di negeri penuh tradisi ini
Dapur, sumur, kasur selalu jadi akhir carita
Haruskah kita terus hidup dengan penuh tradisi?

Ahh sialnya kita benar-benar hidup.                                        Hidup di negeri penuh tradisi.                                              Tradisi patriarki!


Manado, 21 April 2020
Selamat Hari Kartini
Berjuang untuk setara!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

79 tahun HMI: Tetap Hijau, Bukan Karena Usia. Melainkan Kesadaran yang Terus Tumbuh.

Bertahan, Bertumbuh, Berdampak: Cerita juga Catatan tentang Dua Tahun Manado Book Party

****