Secuil tak enak hati

Mungkin sudah begini aku ditakdirkan, dengan ego yang sangat besar dengan kecemburuan yang tak beralasan dengan banyak keburukan. Tak cukup baik untuk diajak berkawan.
Hati yang sulit memaafkan padahal sudah paham bahwa semua jalan yang aku lewati semuanya sudah diatur.

Satu kejadian yang sampai saat ini belum bisa kuterima dengan ikhlas, walau sudah puluh kali berucap ikhlas. Hatiku masih terasa sesak kala aku merasa dikhianati. Aku yang merasa semua akan baik-baik saja lambat laun semakin tak membaik. Entah kenapa aku tak bertegur, tak bersapa, juga tak selalu mengindahkan apa yang mereka lakukan. Aku seolah-olah buta, tak melihat apapun, tak mau merasakan kesenangan mereka. Mungkin aku sedang melindungi hatiku agar tak merasa tersakiti. Atau itu hanya perasaanku saja. Entahlah.

Hatiku mungkin berpenyakit sampai-sampai hanya karena aku merasa dikhianati satu orang dan imbasnya ke banyak orang di kelilingku.
Ingin minta maaf. Tapi saki hati dan gengsiku lebih besar dari itu semua.

Sudah kulewati masa-masa kritisku diawal aku jadi anak perantauan walaupun jarak ramtaunya hanya berkisar puluhan kilometer dari rumah. Aku anak manja yang hanya mau sesuatu yang instan. Sungguh dengan aku belajar banya untuk cara-cara dewasa. Berjalan dan bermain bersamamu banyak hal yang kudapat. Tentang janjian kita untuk tetap berada di satu rumah yang istimewa, membangun dan terus membangun. Mengunjungi tempat-tempata baru. Ke mall untuk sekedar cuci mata. Semua denganmu. Yang mereka kira kita sodaraan.

Sekarang semua itu tak kutemukan lagi. Kita berjarak lagi. Entah itu masih karenaku atau karena kita yang sama-sama punya hati yang keras. Aku ingat betul wakti kita nangis bareng di malam muhasabah. Kupikir aku sudah selesai. Ternyata perasaan tak enak hati pun masih berlangsung hingga sekarang. Sungguh aku sedih jika mengingat semuanya.

Oh iyaa, kemarin mamaku bertanya kenapa kamu gak datang-datang kerumah lagi. Apakah kita berdua sedang berselisih?. Tak tau akan kujawab dengan jawaban seperti apa.

Ahh aku tak mau terus terusan begini. Kapan kita akan saling mengerti perasaan satu sama lain lagi. Kamu yang dulu tanpa canggung selalu kupinjam uang. Sekarang bercengkrama lewat media sosial pun aku kaku.

Sialnya..

Komentar

  1. Sabar ya duhai aku 😢

    BalasHapus
  2. Klo 'hati' ada bengkelnya pasti si 'aku' adlah pelanggan prtama.. Wkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Tuliskan komentar yang membangun yaa gaess :)

Postingan populer dari blog ini

79 tahun HMI: Tetap Hijau, Bukan Karena Usia. Melainkan Kesadaran yang Terus Tumbuh.

Bertahan, Bertumbuh, Berdampak: Cerita juga Catatan tentang Dua Tahun Manado Book Party

****